Life is Adventure

Home~~Come To My Freaky Zone~~Nov 6, 2007
$*&^~!@# WeLcOmE tO mY fReAkY zOnE #@!~^&*$



I'm The Freaky Boy that Can Make You Thinking About Me

If You Are Interest To Be My Lovely Friend, Just Share Here

I Only Accept Fun & Passionate People

If You're Not Interest, Just Leave It!!! and Thanks For Visit

Photo AlbumJust Imagine (Girl OnlY) (2 photos)Oct 4, '08 5:20 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Hey Girlz!!!!!
If You Wanna Know Who I Am...

Just Look at My Eye Picture....

and Imagine If You and I Go To Bali Island and We Rent a Little Cottage to Share Our Romantic Situation,

at The Day We Go To Dry in The Sun,

When You Wear Beach Dress I See Your "Curly Long-Hair" at Your

Armpit, I Can't Imagine If a HAIRDRESSER Look at Yours and Thinking

"HOW NICE IF IT TO BE REBOUND".

Blog EntryPERCAKAPAN TINGKAT TINGGIOct 4, '08 1:55 PM
for everyone
Ketika kita dihadapi kepada ruanglingkup organisasi baik itu dalam skala sempit maupun luas, hampir tidak bisa dipungkiri kita berhadapan dengan yang namanya masalah. Yah masalah adalah suatu “anugerah” yang diberikan terhadap siapa saja yang mengaku sebagai makhluk yang mempunyai akal dan pikiran maupun tidak. Dinamika masalah terjadi dalam gelombang perjalanan titik-titik putaran waktu yang kadang tersentuh secara individu maupun secara kelompok. Mau tidak mau, suka atau tidak suka masalah terkadang hinggap bagai debu jalanan yang menggerayangi setiap lekukan tubuh kita. Lalu bagaimana sikap kita dalam menghadapi setiap terjangan masalah dalam hidup kita??? Apakah kita akan menghindari??, menghadapi dengan cara yang buruk?? atau menghadapi dengan cara yang baik??. Tentunya percikan akal sehat nurani kita akan sontak memilih solusi ketiga yaitu menghadapi dengan cara yang baik. Tetapi apakah semudah itu aplikasinya bak menggesekkan kartu kredit ketika berbelanja??? Mari kita telusuri.

Pertengkaran dalam keluarga, kericuhan yang timbul dilingkungan pekerjaan, dalam hidup bermasyarakat, jika kita tarik benang merahnya adalah ketidakmampuan kedua belah pihak yang memegang simpul masalah saling mensinkronkan aliran makna yang mereka inginkan. Masing-masing aktor biasanya lebih memilih menghindar atau penyelesaian dengan cara yang tidak rasional dengan emosi yang menggebu-gebu atau diam seribu bahasa bak mesranya perang dingin antara Uni Sovyet dengan Negeri Paman Sam beberapa dekade lalu. Tetapi bukan hal mudah dalam melakukan metamorfosa keberanian mencetuskan aliran makna yang akan terungkap. Dalam hal ini cobalah:

1. Mulai dari hati diri kita sendiri untuk meredam gejolak ego sentris yang ada didalam diri kita tanpa takut akan terhina bagaikan tawanan perang di penjara Guantanamo Kuba atau seperti cemoohan ras kulit putih terhadap kaum negro dalam kilasan sejarah amerika jaman baheula.

2. Fokuslah pada inti masalah dan selamilah “dia”, aliran makna tidak akan mengalir laksana aliran air sungai dari hulu ke hilir jika keluar dari jalur inti masalah itu sendiri. Aliran itu bisa jadi laksana siklus Sungai Ciliwung yang tidak lagi normal dan menghantam kesana-sini dengan silaturahmi banjirnya akibat “masalah-masalah” plastik jantung kota yang melanda kinerjanya.

3. Perhatikan situasi dalam mengalirkan makna-makna menuju situasi yang solutif dan kondusif. Timing yang tepat perlu disiasati dalam menghadapi situasi percakapan taruhan tinggi. Jangan sampai terjadi gesekan-gesekan yang halus sekalipun seperti gesekan yang halus antara dua mobil namun sama-sama berada dalam kecepatan 120 km/jam. Biarkan masing-masing aktor menyelesaikan aliran makna mereka masing-masing dan pahamilah sang aktor tersebut laksana memahami kekasih pujaan kita atau bahkan seperti memahami diri sendiri.

4. Ciptakan rasa aman kepada setiap aktor-aktor yang berlaga dalam film misteri yang belum terpecahkan tersebut. Jangan timbulkan sikap menyerang, membodohi atau meremehkannya seperti seekor “pungguk yang merindukan bulan”, hargailah tiap jengkal syair aliran maknanya karena itulah kurva klimaks dalam menyebrangi lautan menuju “pulau solusi” yang masyarakatnya ingin memakan menu tujuan bersama.

5. Bertindaklah untuk mengambil sebuah keputusan yang didalamnya sudah tertanam benih-benih unggul hasil kreasi aliran makna bersama dan proaktiflah dalam keputusan tersebut tanpa menyisihkan rasa aman dari masing-masing aktor yang berlaga dalam film tersebut.

Saripati dari langkah-langkah solutif diatas adalah seberkas jurus yang sangat ampuh apabila benar-benar kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari baik dalam permasalahan suami maupun istri atau Romeo dan Juliet yang sedang dilanda prahara maupun lingkungan pekerjaan, karena menghindari ataupun diam bukanlah langkah teraman namun merupakan langkah ter “edan” yang akan bergemuruh di rongga dada dan bisa menimbulkan situasi laksana bara didalam sekam yang sewaktu-waktu membakar alam bawah sadar kita untuk melakukan hal-hal yang sporadis. Suatu keputusan yang tidak sesuai dengan yang diharapkan atau melenceng 5 derajat dari harapan, namun apabila telah diselimuti dengan rasa aman dan situasi yang kondusif hasil akhir keputusan tersebut laksana menghidangkan dua menu sop kepiting dan sambal goreng udang yang tentunya sama-sama bergizi tinggi.

Blog EntryWho is The Greatest Guitar PlayerOct 4, '08 1:53 PM
for everyone
Joe Satriani, Paul Gilbert, Steve Vai, Nuno Bettencourt, Brian May, Yngwie Malmsteen, Eddie Van Hallen, adalah segelintir nama-nama gitaris yang selalu menjadi buah bibir dan mengisi media dunia gitaris-gitaris terkemuka di dunia. Setiap gitaris punya ”ajian pamungkas” masing-masing. Sebut saja Joe Satriani yang disebut sebagai gurunya para dewa gitar (guru dari Steve Vai dan Kirk Hammet), Paul Gilbert yang dikenal lewat single “Technical Difficultiesnya, Steve Vai yang dikenal dengan “sound effectnya yang kaya”, Nuno Bettencourt yang di kenal dengan jurus “Rythm N Funk nya”, Yngwie Malmsteen yang di kenal dengan “Speed Picking Arpeggiosnya” dan Eddie Van Hallen yang telah mempatenkan “Two Hand Techniquenya” atau Balawan (Gitaris dari Bali) yang di kenal dengan “The Magic Fingernya” adalah alasan mengapa orang menggemari dan menjadi pengaruh sebagian musisi dalam bermain musiknya atau menilai mereka pantas disebut sebagai dewa gitar.

Tetapi bagi sekelompok orang dalam menentukan para gitaris tersebut menjadi yang terhebat banyak faktor yang mereka lihat. Seorang teman mengatakan baginya yang paling hebat itu adalah Jason Becker yang dapat memainkan “Eruptionnya Van Hallen” dengan satu tangan kiri dan tangan kanannya sambil bermain yoyo, dan seorang lagi mengatakan bahwa di sangat menggemari Jimi Hendrix karena dialah pelopor peralihan musik klasik Rock ke modern Rock dengan aksi panggung yang luar biasa.
Salah satu komentar yang pernah saya dengar yang datang dari musisi kita yaitu Eet Syahranie (EDANE) yang pernah saya dengan di Radio M97 FM Jakarta sekitar tahun 90-an, eet bilang ” Musik adalah seni bukan olahraga yang bisa ditentukan secara mutlak pemenangnya dengan sebuah pertandingan, kalau kita bicara musik atau seni maka kita harus hubungkan dengan yang namanya selera, jadi syah-syah saja kalau seseorang menyebut bahwa Eddie Van Hallen atau Steve Vai gitaris terhebat karena itu adalah selera mereka“.

Salah satu faktor penting yang menurut saya yang tidak bisa diabaikan dalam menentukan selera adalah daya cipta atau kreasi dari musisi itu sendiri, karena walaupun hebatnya teknik bermain seorang gitaris namun tanpa hasil karya yang dikenal secara luas maka belumlah layak dia dikatan sebagai seorang jawara gitar. Jadi dalam hal ini syah-syah saja saya mengatakan bahwa gitaris terhebat menurut versi saya adalah Nuno Bettencourt dengan cabikan Funky Metalnya yang mewarnai musik dunia dan pernah berkibar dengan group EXTREME-nya dalam nominasi gitaris terhebat dunia.

Blog EntryThe Comfort FriendOct 4, '08 1:48 PM
for everyone
Berbicara tentang persahabatan kadang-kadang kita selalu teringat kepada seseorang yang begitu berarti dalam kehidupan kita entah dia masih ada ditengah-tengah kita atau sudah tidak bertemu lagi atau bahkan sudah sudah pupus dari dunia ini. Ya, seseorang atau sekelompok orang yang kita anggap sebagai sahabat akan selalu mengisi ruang di memori otak kita dan selalu bersemayam diruang otak kita tersebut. Berbagai macam komentar yang pernah kita dengar dari setiap orang kebanyakan tentang arti sahabat adalah seseorang atau sekelompok orang yang selalu ada disaat kita dalam kondisi susah ataupun senang, begitulah ungkapan yang saya tangkap dari kebanyakan orang tentang arti sahabat.

Menilik cerminan tentang arti sahabat dari ulasan diatas menurut saya perlu ditelusuri bagaimana proses kita menilai seseorang atau sekelompok orang pantas disebut sebagai sahabat. Menurut hemat saya dan pengalaman pribadi yang pernah saya jalani sebuah proses pergumulan/pergaulan yang akan berangkat kepada titel sahabat adalah didasari kondisi sebagai berikut:

1. Kita kenal karakter diri kita sendiri dan juga tahu karakter seorang/sekelompok orang tersebut, begitu juga sebaliknya.
2. Pernah mengalami kondisi dilematis atau sulit secara bersama-sama.
3. Tahu kelemahan dan kelebihan dari masing-masing pihak untuk mensinergikan pergaulan sehari-hari.
4. Tidak akan pernah berubah sikap meskipun salah satu pihak berubah kondisi status sosialnya.

Empat point proses diataslah yang menjadi patokan bagi saya pribadi dalam menentukan titel sahabat dan yang paling membekas umumnya point “pernah menjalani kondisi-kondisi sulit pada kurun waktu tertentu”. Seperti kata orang bijak yang saya lupa namanya menyebutkan bahwa kesederhanaan akan melahirkan kewibawaan, kebijakan dan kerendahan hati. Kalau melihat sejarah kebijakan kerendahan hati sejatinya tidak pernah lahir dari kondisi orang yang serba berkecukupan yang tidak pernah mengenal susahnya hidup atau pernah mengamati dan meneliti kondisi kesengsaraan.

Selalu terngiang di telinga saya sepenggal bait syair lagunya Iwan Fals yang berjudul ujung aspal pondok gede ;” sebentar lagi angkuh tembok pabrik berdiri, satu persatu sahabat pergi dan tak akan pernah kembali”. Yah walaupun memang seorang sahabat tidak akan pernah kembali lagi dalam kehidupan kita tetapi yakinlah bahwa mereka akan selalu mendapat tempat di ruang memori otak kita tanpa bisa tergantikan selama kita masih hidup didunia yang fana ini.

Blog EntryMusician or Not ???Oct 4, '08 1:45 PM
for everyone
Akhir-akhir ini sangat banyak bermunculan musisi-musisi muda yang entah dari aliran apa yang mereka usung, entah itu rock, rap, pop jazz dan sebagainya. Namun apakah mereka layak dikatakan musisi atau bukan karena mengingat sebagian orang mengatakan ” kok lagu-lagu jaman sekarang cepat sekali tenggelamnya tidak seperti lagu-lagu lama yang masih enak dan nikmat di dengar ditelinga hingga saat ini”. Ya kalau saya lihat sih memang begitu, bagi saya sendiri lagu-lagu jaman sekarang tidak murni bahwa bermusik itu memang untuk kepuasan hati namun lebih kepada faktor “isi perut”. Ketika saya masih SMU pernah bermain band dengan beberapa teman dan seringkali bertemu dengan musisi aliran rock yang banting stir ke aliran pop karena faktor “isi perut” setelah itu mereka bermain musik itu tidak didasari dengan hati dan kepuasan mereka sendiri, satu contoh grup musik Stinky yang banting aliran dari Rock ke POP lantaran tidak ada produser yang mau mensponsori lagu-lagu rock mereka.

Menurut saya kebanyakan musisi sekarang tidak seluruhnya layak di katakan sebagai seorang musisi namun mereka lebih layak dikatakan “pekerja musik” karena mereka mengerjakan musik untuk kejar target dan untuk meraih penghargaan tertentu.

Inilah satu alasan mengapa lagu-lagu jaman sekarang tidak begitu aduhai dan bertahan lama untuk didengarkan karena telah terkontaminasi dengan aliran-aliran barat dan tidak mengerjakan musik sepenuh hati. Menurut Eet Syahranie musik ini bukan olahraga tapi adalah seni yang masing-masing orang interpretasi masing-masing, tapi bagi saya “seorang musisi itu adalah seseorang atau kelompok yang tidak akan pernah perduli bahwa karya mereka itu laku, di gemari atau tidak di eluh-eluhkan atau tidak tetapi tidak lebih dari pengekspresian dari imajinasi yang harus di keluarkan untuk kepuasan batin“.

Blog EntryThe Escalation of LoveOct 4, '08 1:42 PM
for everyone
Sejumlah deadline surat kabar di Jakarta pada hari dan tanggalnya aku sudah lupa tetapi tahunnya kalau tidak salah 1992, sesaat setelah bencana gempa bumi mencengkram bumi pertiwi tepatnya di Maumere belahan timur negeri kita. Tersiarlahlah kabar bahwa sang inspirasiku Iwan Fals akan menjamu masyarakat kota Jakarta dengan sederetan syair kontroversialnya baik itu cinta, politik dan entah apa saja yang penting syairnya adalah guratan makna balada kehidupan manusia di jagat ini dengan tajuk “Konser Amal” untuk Sikka, Ngada, Ende Folres Timur. Konser tersebut akan disemayamkan di stadion lebak bulus kebanggan PELITA JAYA besutan Nirwan Bakrie. Kala itu aku masih duduk dan bersimpuh di kelas 6 SD pinggiran Selatan Jakarta. Aku utarakanlah keinginanku kepada ayahku untuk menonton sang idolaku tersebut karena apa dayaku apapun aku masih mengemis kepada ayahku tersebut termasuk dana nonbudgeter karcis untuk memelototi konser tersebut. Deal or no deal akhirnya deal kata ayahku demi kecintaannya padaku.

Sepulang sekolahku berangkatlah kami dengan angkutan kota jurusan Ciputat-Pondok labu menuju TKP dan akhirnya setelah turun dari angkot kami terlibat transaksi dengan calo tiket dan akhirnya sepakat untuk dua tiket seharga Rp. 5000,-. Untuk kesempatan kali itulah kami sangat menghargai profesi calo karena apabila kami beli tiket di loket kami akan membayar investasi sebesar Rp. 10.000,-, “terimakasih caloku yang baik” begitu gumamku dalam hati. Sebagai informasi ekonomi pada saat itu harga sepiring nasi di WARTEG Rp. 500,- dengan menu yang cukup wah. Masuklah kami kedalam stadion kebanggan Pelita Jaya itu, ketika kami masuk stadion kami langsung disambut oleh beberapa tembang lagu grup SLANK yang lagi lucu-lucunya dan baru menelorkan 2 album yaitu “SUIT-SUIT HE HE dan KAMPUNGAN”, kala itu Slank dengan formasi; Kaka, Bimbim, Pay, Indra dan Bongky masih jadi band pembuka konser Iwan Fals. Usai sudah Slank mencelotehkan beberapa tembang lawasnya dan kemudian hiruk-pikuk penonton konser meng elu-elukan nama Bang Benyamin Suaib seorang maestro Betawi untuk tampil berikutnya sebagai pembuka konser Iwan Fals yang sesungguhnya bernama Firgiawan Listanto sebagaimana hari kemarin, karena aku nonton konser tersebut di hari kedua yaitu hari terakhir.

Setelah sekian lama tenggorokan penonton kering “hidung nongkrong” Bang Ben (sapaan akrab Benyamin S) tidak kunjung nongol jua, mungkin Bang Ben ada acara lain yang tidak bisa ditinggalkan, akhirnya keluarlah seorang berambut gondrong dan bertampang brewok dialah sang idolaku Iwan Fals nongol untuk CheckSound sebelum ngonser, Iwan Fals sangat gape dalam menciptakan lagu-lagu dadakan, karena terbukti kala sebelum adzan magrib berkumandang dia menciptakan lagu dadakan yang berjudul “Sambil Nunggu Magrib” yang tidak pernah dipublikasikan dan dirilis di album manapun. Setelah magrib sang maestro membuat kami para penonton konser mabuk dan terbius didalam syair-syair lagunya tanpa peduli guyuran air hujan hasil fenomena dan siklus alam mengguyur sampai ke celana dalam kami. Ayahku tetap setia menemaniku menikmati situasi tersebut walaupun dia bukan penggemar Iwan Fals, karena ayahku adalah penggemar keroncong sejati, dia selalu menuliskan kata-kata mutiaranya di kaset-kaset keroncongnya dengan untaian kata “keroncong itu bukan untuk di dengar, tetapi untuk dinikmati”, kata-kata itulah yang kadang membuat aku geli, tetapi apa dayaku, itulah oase kecintaannya terhadap aliran keroncong yang aku sama sekali tidak paham akan musik tersebut, namun baru belakangan ini aku mengerti bahwa tingkat kesulitan memainkan keroncong itu sangatlah sulit dibandingkan memainkan lagu peterpan ataupun ungu.

Waktupun terus berputar seperti roda pedatinya bang bilal menelusuri pematang sawah, akhirnya aku temukan bahwa fenomena yang aku alami adalah sebentuk cinta yang berlapis atau bersekat-sekat tanpa bisa pihak pertama (yaitu ayahku tercinta) harus mencintai pihak ketiga (Iwan Fals), tetapipihak pertama hanya mencintai pihak kedua (yaitu aku) begitupun seterusnya seperti halnya Iwan Fals mencintai anaknya. Begitu luasnya makna cinta yang dialami oleh semua orang yang kadangkala tanpa bisa dimengerti satu sama lain. Itulah sebentuk lika-liku gravitasi cinta yang belum ada artinya dengan makna cinta terhadap “SANG PENCIPTA”.

* Its Orriginally Posted at My Suspended WP

Blog EntryBehind of The FailedOct 4, '08 1:40 PM
for everyone
Tidak masuk kesekolah yang difavoritkan, tidak lulus di perguruan tinggi yang diidam-idamkan, tidak jebol diperusahaan yg kita dambakan, itu adalah sederet metamorfosa hidup yang aku anggap sebagai investasi kegagalan dalam hidupku. Terutama ketika aku gagal dalam mencapai keinginanku untuk menerobos gegap-gempitanya persaingan dan pertarungan “rimba persilatan ujian nasional” demi menyongsong perguruan tinggi di tanah jawa yang aku idam-idamkan, semua itu tak lepas dari provokasi orangtua di rumah dan guru-guru disekolah serta semerbak semilirnya tiupan ego yang berhembus dari mulut manis senior-seniorku yang telah mereguk kesuksesan karena mereka telah berhasil mengarungi lautan pendidikan dengan berbekal bahtera perguruan tinggi rating tertinggi di tanah jawa. Itulah kegalauan yang selalu menyesakkan dimensi otakku. Karena menurutku masa eskalasi setelah lulus smu lah yang kuanggap titik awal aku benar-benar menyelami kehidupan yang berwarna dalam pencarian jati diri, berbeda dengan atmosfer semasa smu ke bawah yang kuanggap petualangan kehidupan yang sangat monoton walaupun kualami pindah berbagai sekolah dari berbagai kota ditanah air ini. Tak luput juga lika-liku perjalananku dalam menuai sesuap nasi dalam dunia kerja setelah dengan terpaksa kutelan sebagian bangku perguruan tinggi untuk meraih sekumpulan pola pikir yang bisa diaplikasikan dalam hidup bermasyarakat.

Dengan bermodalkan setengah hati dan semangat ogah-ogahanyang berkobar-kobar aku jalani pendidikan D3 ku di kota pekanbaru, apatisku sedikit terobati karena dalam semangat ogah-ogahanku disitu terselip guratan doa orangtuaku yang pasti mereka anggap baik berdasarkan pemikiran petualangan hidup dan tidak bisa aku cerna karena aku menganggap ideologi pemikiran orang muda dan orang tua kadang tidak sinkron karena hanya waktulah yang dapat menjawabnya. Seperdelapan perjalanan pendidikanku ayahku tercinta diambil oleh “PEMILIKNYA” untuk menyelesaikan janjinya sebagai khalifah dibumi ini pada usia 48 tahun. Kami sekeluarga sangat terpukul karena beliaulah tumpuan hidup keluarga kami satu-satunya di rantau orang ini. Setelah itu aku keluar dari jalur perencanaan bushway hidupku. Aku mengelana siang malam demi tidak menadahkan tanganku kepada ibuku untuk biaya hidupku, aku jalani 3,6 tahun hidupku dengan bermodalkan organisasi dan semangat pergaulan untuk menghabiskan umur pendidikankun sampai akhirnya aku mencapai garis finish pendidikanku dengan nilai cukup tidak memalukan diatas kurva garis kemiskinan indeks prestasi komulatif.

Seminggu setelah perhelatan wisudaku berangkatlah aku menunaikan tugasku sebagai manusia yang telah dibekali pola pikir anak kuliahan menjalankan sebuah proyek yang di usung bosku yang juga dosenku di daerah terpencil namun kaya minyak yaitu kota duri. Aku dipilih menjadi tim proyek tesebut karena pengalamanku ketika kuliah aku ikut menyukseskan proyek pertama mereka di daerah siak (salah satu kabupaten provinsi riau), setelah pengembaraanku di dunia proyek tersebut semakin merajalelalah aku di dunia kerja sampai berjalan enam tahun belakangan ini, namun disela-sela perjalananku aku juga pernah menikmati beberapa kali kegagalan dalam test masuk dunia kerja untuk meraih perusahaan yang aku inginkan. Aku terus berkelana demi mencapai kehidupan yang lebih baik dengan loncat sana-sini bak loncatan electron teori atom john Dalton. Akhirnya aku terkapar di perusahaan oil & gas yang bagiku cukup untuk menutupi biaya hidupku dan kebutuhan kepulan asap rokokku tiap bulannya.

Merenung dan terus merenung dan akhirnya kudapatkanlah sekantung kesimpulan bahwa semua frekuensi investasi kegagalan yang telah aku santap telah melahirkan setangkup keindahan makna bak indahnya syair pujangga jawa Ronggowarsito. Aku selami pendidikan ku dengan tetap berkumpul tidak jauh dari keluarga dan tetap bisa menjalankan seperti jargonnya orang jawa “mangan ora mangan ngumpul” tanpa harus membebani pikiran ibuku baik secara mental maupun finansial seandainya aku lulus di perguruan tinggi yang kuidam-idamkan dulu. Juga dengan hijrahku dari satu perusahaan satu keperusahaan lain dengan menjadi buruh teknik aku mendapatkan satu kepuasan bahwa disitulah kukenal karakter-karakter manusia dengan latar belakang ras dan tujuan serta kebijaksanaan yang berbeda-beda yang patut dijadikan suri tauladan dalam hidupku. Itu semua tidak akan ku dapatkan jika kakiku langsung tertancap di satu perusahaan yang menjadi impianku, dan dari perjalananku itulah kudapatkan segelintir makna bahwa uang itu bukan segala-galanya karena sisi kebinatangan dalam diri kita sama sekali tidak akan pernah hilang dan hanya bisa dikendalikan oleh sejauh mana kedewasaan kita, tetapi bagiku yang terpenting adalah salinan kisah perjalanan hidup orang lainlah yang sangat berharga yang bahkan mungkin tidak akan pernah kita lewati seumur hidup kita untuk kita jadikan renungan. Aku menganggap bahwa itu semua adalah manifestasi dari indahnya suatu kegagalan.

*Its Orriginnaly Posted at My Suspended WP

Blog EntryIts All About SolidarityOct 4, '08 1:35 PM
for everyone
Kala Sang Surya menghunjamkan sinarnya pada posisi nol derajat diatas kepala, Aku, Eju Kaget, Kudap, Dede dan Uci bergegas memenuhi ruang backpack kami dengan sejumlah peralatan tempur guna sementara waktu menuju lokasi yang belum pernah kami tempuh namun gambarannya sudah mulai terukir di kerangka otak kami, tempat itu adalah sebuah Hutan yang didalamnya terdapat lokasi Air Terjun Aek Martua yang tinggi dan lokasinya cukup mengasyikkan, kami bergegas melaju dengan sebuah angkutan AKDP (antar kota dalam propinsi) menempuh perjalanan 4 jam menuju pinggiran Provinsi Riau tersebut. Kala itu kami mengemban tugas sebagai Tim Survey Lokasi untuk perhelatan KOMPAS II (Kursus Orientasi Manusia Pecinta Alam Semesta) yang kedua KOMMAPALA WINNETOU Fakultas Teknik Universitas Riau.

Pak Supir memacu mobilnya dengan kecepatan rata-rata 90 km/jam, 4 jam berlalu, kami tiba di pintu gerbang lokasi tersebut kami berhenti sejenak guna membeli minyak tanah di toko kelontong di desa Bangun Purba Kabupaten Rokan Hulu. Ketika itu sang empunya warung tersebut menghampiri kami dan terlibatlah kami dalam percakapan seputaran kegiatan kami, lelaki kurus itu terakhir kami kenal dengan nama Pak Muktar, beliau termasuk penduduk asli daerah tersebut. Dengan harapan mendapatkan informasi valid mengenai daerah tersebut akhirnya kami memesan beberapa cangkir kopi. Obrolanpun mencair, Pak Muktar menghisap rokok gudang garamnya dalam-dalam, kaget sibuk membenahi bakpack nya, sementara eju asyik mengikat rambut gondrongnya, Uci sibuk mengasah Golok Naga Gendut 212 nya. Dari Pak Mukhtar kami dapatkan informasi detail mengenai daerah dan lokasi yang kami tempuh karena ternyata Pak Muktar sangat mengenali jengkal demi jengkal tanah hutan tersebut setelah kami keluarkan alat Navigasi berupa lembaran Peta Topologi daerah tersebut walaupun itu produksi tahun 80-an dengan berlabel Peta Angkatan Darat Bukit Barisan. Akhirnya dengan sedikit wejangan akan tata krama daerah tersebut meluncurlah kami pada jam 8 malam Jumat Kliwon tersebut. Untuk masuk kemulut hutan tersebut kami harus menyebrangi sebuah sungai yang lebarnya sekitar 20 meter, kami basah separuh badan namun backpack kami tetap aman.

Dengan berbekal 2 buah senter dan rokok yang terselip di sela-sela bibir masuklah kami dengan petunjuk yang diberikan Pak Muktar tadi, vegetasi di hutan tersebut tidak begitu rapat ketika kami masuk karena beberapa bagian daerah tersebut di tumbuhi pohon karet yang merupakan mata pencaharian petani kampung daerah tersebut. Gambaran yang diberikannya sangat simpel untuk mencapai lokasi air terjun tersebut, sehingga menurut kami tidak sulit mencapai tempat itu, di tengah perjalanan kami bertemu dengan seorang penduduk yang pulang dari berkebun di hutan tersebut, “Mau kemana dek???, sapanya akrab, kami mau ke air terjun pak!!! begitu jawabku, gak takut malam-malam begini???, ah mudah2an nggak pak!!! kataku, karena kami di bekali sedikit petuah oleh pak Muktar, “kalau ada yang aneh-aneh , baca aja beberapa buah ayat, gak perlu takut, mereka tidak ganggu kok, dan hati-hati juga di sana banyak beruangnya, tapi gak apa-apa kok”, kami hanya saling pandang mendengar gurauan serius Pak Mukhtar tersebut kala di warung tadi. Setelah silat lidah kami selesai dengan petani tadi kami terus melanjutkan perjalanan menuju Air Terjun yang belum pernah kami peluk dingin airnya. Akhirnya sampailah kami di persimpangan yang membingungkan, eju langsung angkat bicara “tadi Pak Muktar Bilang kita harus ikuti jalan yang ada gubuknya“, uci mengangguk tanda setuju, sementara kudap terus mengepulkan asap sampurnanya, akhirnya kami sepakat untuk menempuh jalan kekiri sesuai kesepakatan bersama.

Genap satu setengah jam kami berjalan melintasi belukar yang kian rapat akhirnya terdengar suara gemericik air yang menggoda dan melambungkan pikiran akan indahnya air terjun , ”asik kita udah sampe” dede berteriak girang, kaget langsung mematik rokok ardathnya, aku, kudap, eju dan uci langsung sumringah. Dede langsung berlari kearah sumber air tersebut, sementara kami menemukan sebuah gubuk panggung tidak berpenghuni dan dibawah panggungnya kami menikmati beberapa teguk air minum. Akhirnya Dede menghambur kembali dengan wajah sedikit kecewa karena Ia hanya menemukan gemericik air sungai dan bukanlah air terjun yang menjadi target operasi kami. Akhirnya kami saling pandang dan akhirnya kami semua tertawa dan memahami bahwa kami dalam kondisi tersesat, tanpa ragu-ragu kudap mengeluarkan 2 pack kartu remi, uci langsung menggelar tikar, dede dan kaget langsung menyalakan kompor untuk memasak kopi, aku mematik rokok dji sam soe ku untuk melawan dingin. Akhirnya malam itu kami lewati dengan riang gembira dengan bersila memainkan lembaran kartu remi sambil menikmati regukan kopi hangat dan ditemani kepulan asap rokok yang keluar dari sela-sela hidung. “Kalau kita tidak tersesat mana bisa kita nikmati malam ini dengan cara seperti ini” , kaget nyeletuk, “yoi coy, malam penuh bintang gini ngapain kita celingukan cari-cari jalan mendingan juga main remi sambil ngerokok“, kudap ikut-ikutan berceloteh, eju dan dede tertawa terbahak-bahak, aku hanya tersenyum simpul melihat kelakuan teman-temanku.

Aku bergumam ” betapa nikmatnya punya teman-teman seperti mereka, ditimpa kondisi sulit namun kami tetap tenang tanpa beban sedikitpun“. Yah, kondisi seperti ini bukan dengan sendirinya terbentuk, ini semua tidak terlepas karena mindset di pikiran kami sudah terbentuk dalam kesepahaman dan telah ditempa dalam berbagai kesulitan bersama, kami tahu idahnya kegagalan, tahu sulitnya membangun kebersamaan dalam kondisi sulit, dan telah memetik hikmah dari yang namanya solidaritas. Esok paginya kami kembali kepersimpangan yang membingungkan itu dan bertemu dengan beberapa petani desa. Setelah bertanya dengan gamblang sekitar 1 jam kedepan sampailah kami di Aek Martua dan disanalah kami mengatur rencana untuk perhelatan Pendidikan organisasi kami.


History : Its originally posted at WP, I used to transfered this post since the sites was suspended by wp admin.

Blog EntryI Have No IdeaOct 4, '08 1:30 PM
for everyone
Inspirasi, ide dan keingingan semuanya datang dan pergi sekilas begitu cepat, ketika saya memiliki ide atau inspirasi saya sangat ingin sekali menuangkan sebuah tulisan entah itu langsung di posting ini maupun dalam sebuah guratan buku, namun alangkah sialnya kita ketika ingin menuangkan sebuah ide atau tulisan namun media yang hanya kita miliki hanya sebuah ingatan tidak ada PC atau sebuah pena dan secarik kertas. Kejadian itu sering sekali saya alami dan membuat saya sangat benci dengan kondisi itu, ketika beberapa hari yang lalu saya mendapat ide untuk membuat beberapa tulisan namun setelah saya di depan PC semua ingatan itu melayang entah kemana tanpa bisa di alirkan melalui jemari ini untuk menghasilkan sebuah tulisan.

Yah, memang menulis ini adalah sebuah kondisi yang gampang-gampang susah, apabila kita berpikir menulis itu sulit maka pekerjaan itu bisa menjadi sulit begitupun sebaliknya. Seperti kondisi saat menulis posting ini, saya tidak punya ide sama sekali ingin menulis apa dan cukup kesal karena inspirasi yang ada beberapa hari yang lalu hilang tak berbekas karena kesalahan tidak mendokumentasikan apa yang terlintas di benak walaupun hanya sebuah kata kuncinya saja.

Nah berdasarkan pengalaman pribadi saya tersebut tidak ada salahnya bagi kawan-kawan yang notabenenya bukan seorang penulis seperti saya atau yang baru saja gemar menulis ketika terlintas sebuah inspirasi di benak anda, tulislah selalu ketika anda memiliki sebuah ide yang rasanya pantas untuk “muntahkan” dalam sebuah tulisan karena kita tidak akan pernah mendapatkan inspirasi yang sama dalam setiap moment, jadi jangan sia-siakan inspirasi anda hilang dengan percuma. Bagaimana menurut anda??

Taken from my suspended blog at WP

Blog EntryBack To ZeroOct 4, '08 12:27 PM
for everyone

Dear Friends

Forgive me for mistaken that I have ever done to all of you

I Can't see my multiply for along time due to my bussy schedule..

MINAL AIDZIN WALFAIDZIN 1429 H

MOHON MAAF LAHIR BATIN


Photo AlbumOut of Home (2 photos)Apr 5, '08 6:52 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

****Just Do It****

Even You Have To Going Out So Far Away from Home


Photo AlbumOver The Top (2 photos)Apr 1, '08 11:46 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
<<< Make Your Choice!!!! >>>


To be Mountaineer, Climber, Woman Lover or Looser...


Its Time To Follow Your Destiny!!!


Just Follow Your Life Like Flowing Water


We'll Don't Know Till The End



Photo AlbumMe, My Self and Friends (1 photo)Mar 27, '08 7:12 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

There is No Time To Sadness....

Get Your Dream....

and Be The People that Others Love...

Musicgreat guitarNov 25, '07 5:21 PM
for everyone
Little Wing Pawn Kings Andy Timmons 
Olivia's Song Spoken and the Unspoken Andy Timmons 
pray for peace Ear X-Tacy andy timmons 
andy timmons - there are no words Ear X-Tacy Andy Timmons 
Parisienne walkways (Edit live) The very best of Gary moore 

MusicGREAT GUITARNov 25, '07 3:28 PM
for everyone
This is my favourite Great Guitar, how about you?
Cotton Fields The Complete CCR Box CD3 CCR 
Beautiful Stranger That Was Then, This Is Now Andy Timmons 
Little Wing Pawn Kings Andy Timmons 
Olivia's Song Spoken and the Unspoken Andy Timmons 
pray for peace Ear X-Tacy andy timmons 
andy timmons - there are no words Ear X-Tacy Andy Timmons 
Parisienne walkways (Edit live) The very best of Gary moore 

MessageGuestbook
   
riapalupi wrote on May 26
Happy Birthday Uncle Inugraha. GBU : Lil' Sydney & Mom
inugraha wrote on Mar 30
inugraha wrote on Mar 30
dymloes wrote on Mar 12
udah saya fill bro!.. di tunggu tulisan2nya hehehe...
inugraha wrote on Nov 7, '07
Please Fill in before you start....
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help